iklan 1

Friday, 5 November 2010

Modal Bisnis Katering Cuma Rp 50 Ribu!

Bermula dari warung mungil di pinggir jalan kecil, Rini Widijati (39) memulai usaha katering bernama Pe’De Catering, kini pelanggannya sejumlah artis dan perusahaan besar di Jakarta. Perjalanan membangun usaha dengan modal awal Rp50 ribu memang tak semudah membalikkan tangan.

K atering Pe’De itu, kependekan dari apa, sih?

Oh, itu singkatan dari nama anak saya, Puspa Aisyah D’arni. Kami baru dikaruniai momongan setelah lima tahun menikah. Jadi Icha (10), nama panggilan anak kami, adalah buah hati yang sudah lama kami nantikan kelahirannya.

Sejak kapan mulai buka usaha katering?

Sekitar 2003. Ceritanya, saya memutuskan berhenti dari pekerjaan yang sudah 10 tahun saya tekuni di perusahaan taksi. Gara-garanya, saya amat berat meninggalkan anak tunggal kami, Icha. Apalagi, waktu masih bayi Icha tidak bisa ditinggal karena tidak mau minum susu formula. Dan ternyata, setelah setahun lamanya “hanya” menjadi ibu rumah tangga, tinggal di rumah saja, saya mulai bosan. Mungkin sudah terbiasa kerja, ya. Akhirnya, saya menyibukkan diri mengikuti berbagai kursus memasak.

Kursus masak di mana?

Banyak. Di antaranya, saya pernah jadi muridnya Rudy Choirudin dan Nila Chandra. Padahal, dulu waktu masih bekerja, saya jarang memasak. Mungkin ini yang dinamakan bakat, ya. Dari pada ilmu belajar memasak jadi percuma, saya punya ide untuk buka warung. Kan, hasilnya bisa dinikmati keluarga juga. Apalagi, teman-teman kursus saya rata-rata sudah punya restoran atau katering.

Saat memulai usaha, warung kami cuma mungil saja di pinggir jalan kecil di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan. Setiap pagi, jalan di sana macet. Tapi justru di situlah keuntungan saya.

"Saya sempat ikut kursus masak di berbagai tempat," tutur Rini yang punya koleksi buku resep ratusan buah (Foto:Daniel)

Maksudnya?

Begini, tiap pagi saya memasak risoles. Selesai masak, pegawai saya yang mengantarkan ke warung di seberang rumah kontrakan kami. Nah, bersaman dengan itu lalu-lintas biasanya tengah macet. Orang-orang yang sedang kena macet itu lantas membuka kaca mobilnya saat pegawai saya melintas. Para pengendara mobil itu bertanya kepada pegawai saya, sedang membawa barang apa? Rupanya para pengendara mobil itu ingin mencicipi risoles saya untuk mengganjal perut. Mungkin mereka belum sempat sarapan dari rumah, ya.

Karena risolesnya masih hangat, mereka jadi suka. Sejak itu, banyak yang mampir ke warung saya yang kecil itu buat beli risoles. Padahal, pertama kali membuka usaha, modal saya cuma Rp 50 ribu, lho. Tapi cukup untuk bikin beragam menu.

Lalu?

Karena dagangan saya makin laris, saya mengontrak warung di sebelah yang lebih besar. Sistem layanannya saya bikin jadi warung makan prasmanan. Tiap jam makan siang, warung saya dipenuhi orang kantoran yang mengantre makan. Sejak itu keberadaan warung saya mulai tersebar dari mulut ke mulut. Mulai banyak orang yang memesan katering untuk acara di kantornya atau arisan.

Ditambah lagi, suami saya sering memotret menu-menu atau tumpeng pesanan, lalu fotonya dipajang di warung disertai nomor telepon. Lucunya, kebanyakan pembeli saya justru dari daerah yang jauh dari rumah, bukan dari sekitar lingkungan rumah atau warung saya.

Siapa pelanggan pertama katering Anda?

Perusahaan di mana saya pernah bekerja, yaitu perusahaan jasa taksi Blue Bird. Kalau sedang ada training , perusahaan itu minta saya menyediakan kateringnya. Sebelumnya, saya memang sering mengundang bekas teman-teman kerja untuk makan di rumah. Dari situ mereka menyarankan untuk buka usaha. Banyak juga dari mereka yang pesan katering untuk makan siang.

Lalu?

Sayangnya, warung yang saya kontrak hanya diizinkan hingga 3 tahun, padahal saya berharap bisa 10 tahun. Asal tahu saja, kami sudah merenovasi dapur rumah itu, sengaja diset untuk bisnis katering. Akhirnya, kami terpaksa pulang ke rumah kami di Bogor. Namun, karena telanjur sudah tanda tangan kontrak dengan pelanggan, katering tetap kami antar dari Bogor.

Seperti membangun bisnis dari awal lagi, dong?

Iya. Ternyata, tinggal di rumah Bogor juga membosankan. Apalagi, Icha setiap hari harus sekolah di Menteng, Jakarta. Setelah dua tahun di Bogor, kami memutuskan pindah lagi ke Jakarta. Karena tidak punya tempat untuk berjualan, kami berjualan lewat internet. Kami mulai mengumpulkan pelanggan lagi pelan-pelan. Pelanggan yang lama tetap kami layani.

Bagaimana caranya mengumpulkan pelanggan?

Biasanya, tiap kali pegawai saya mengantarkan katering ke apartemen atau kantor, di sana ada penghuni atau karyawan yang bertanya-tanya ke dia, dan akhirnya jadi pelanggan baru. Yang sebelumnya hanya beberapa orang saja, lama-kelamaan jadi makin banyak. Bahkan, ada juga yang jadi pelanggan saat sedang terjebak macet di jalan.

Siapa saja pelanggan Anda sekarang?

Selain perusahaan taksi, juga ada perusahaan tambang, stasiun radio, kantor pemerintah, stasiun teve (terutama untuk sahur), perusahaan-perusahaan yang punya call center 24 jam, dan sebagainya. Ada juga sekolah TK dan SD Indonesia Montessori yang sudah 5 tahun jadi pelanggan. Para penghuni apartemen, termasuk Apartemen Taman Rasuna, dan penghuni perumahan di daerah sekitar Mampang, Tendean, Kemang, Senopati, Kebayoran Baru, dan sebagainya. Pernah juga pejabat dan artis memakai jasa kami.

Apa, sih, risikonya berbisnis katering?

Untuk katering rumahan, rantang seringkali tidak dikembalikan. Dulu kadang malah kembali dalam keadaan penyok. Akhirnya saya berlakukan sistem deposit untuk pelanggan baru. Uangnya akan kami kembalikan saat dia berhenti berlangganan. Akhirnya pelanggan jadi mau menjaga rantangnya. Kemacetan di jalan juga jadi salah satu kendala yang kadang-kadang sulit diprediksi.

Pernah, kami dapat order katering dari instansi pemerintah yang letaknya tidak jauh dari kami. Namun, ada truk yang mogok di tengah jalan yang membuat pengantaran yang harusnya cuma 15 menit jadi molor berjam-jam. Mobil berisi makanan pembuka sudah sampai lokasi, tapi mobil yang membawa menu utama malah terjebak macet. Akhirnya makanan sedikit demi sedikit diangkut pakai motor. Saya sampai tak bisa tidur berhari-hari, padahal sudah berkali-kali minta maaf ke si pemesan.

Pengalaman buruk lainnya?

Kami nyaris tertipu jutaan rupiah. Ceritanya, suatu hari ada orang yang mengaku dari instansi pemerintah menelepon pada hari Jumat siang. Si penelepon minta kami menyediakan katering untuk acara kantornya pada hari Senin-Rabu. Katanya, ada masalah dengan katering sebelumnya sehingga mendadak cari katering lain. Total pesanan mereka kalau tidak salah sekitar Rp 67 juta.

Tapi dia bilang akan menuliskan cek sejumlah Rp 80 juta. Kami diminta membawa uang selisihnya, Rp 13 juta dalam bentuk tunai, Jumat itu juga. Kami jadi curiga, bagaimana kalau ceknya ternyata kosong? Tawaran itu kami tolak. Dia tampaknya tahu kami sadar akan ditipu, sejak itu teleponnya tidak bisa lagi dihubungi. Padahal sebelumnya dia berkali-kali menelepon, lho.

Apa saja jasa katering yang ditawarkan?

Kami menerima order katering untuk acara kantor, khitanan, pesta, arisan, dan order katering rumahan. Untuk rumahan, makanan diantar satu kali sehari, menunya cukup untuk dua kali makan, masing-masing empat porsi. Harganya bervariasi.

Semua menu Pe'De catering dijaga kebersihannya (Foto: Daniel)

Apa menu khas katering Anda?

Risoles. Pernah, dalam satu acara di instansi militer, seorang istri pejabat bolak-balik ke meja prasmanan hanya untuk menyantap risoles buatan saya. ha...ha...ha...

Pelanggan juga menyukai es buah. Biasanya es buah ini saya bikin dulu, lalu dimasukkan ke dalam freezer beserta termosnya. Bisa tahan lama meski tanpa pengawet. Rasa buahnya jadi lebih enak dan lembut. Isinya ada 12 macam buah.

Lalu, apa kiat sukses Anda?

Harus benar-benar suka memasak. Kalau enggak hobi, pasti cepat bosan. Ini bisnis yang melelahkan, tapi untungnya besar. Banyak orang bisa masak, tapi enggak banyak yang mau sabar dan teliti menghadapi pelanggan yang bermacam-macam karakternya. Setiap keluhan atau permintaan harus diterima dengan lapang dada. Yang juga penting, tidak terlambat mengantar pesanan. Bila sudah tahu akan terlambat, sebaiknya harus memberitahu si pelanggan dulu.

Dulu, katanya suka nekat menerima pesanan menu yang belum pernah dibuat, ya?

Ha ha ha… iya. Habis, kalau saya tolak dengan alasan belum pernah bikin, nanti orang berpikir katering saya cuma main-main. Jadi, saya terima saja dulu pesanannya. Setelah itu saya buka buku resep, mencoba bikin, lalu saya cari rumah makan yang menjual menu itu. Maksudnya untuk membandingkan rasanya. Misalnya, selat solo. Syukurlah, selama ini pemesan selalu puas dengan rasanya. Saya juga punya buku resep jumlahnya satu lemari besar.

Omong-omong, suami berhenti kerja demi membantu bisnis ini?

Suami, Mohamad Arid Isnadi, justru lebih dulu berhenti kerja. Dia seperti saya, dulu sama-sama ditempatkan untuk perwakilan di hotel. Setelah berhenti, dia membuka usaha pariwisata sendiri, sambil membantu saya memasarkan katering ini.

Sumber : tabloidnova



No comments:

Post a Comment