iklan 1

Sunday, 21 November 2010

Siapa Sih , Yang Harus Orgasme Duluan???

Sebenarnya, ini tak perlu dipersoalkan, karena yang terpenting, kedua belah pihak bisa saling memuaskan. Namun begitu, pada pasangan yang saling mengerti, umumnya lebih suka bila istri yang mencapai orgasme lebih dulu. "Soalnya, kalau pria orgasme duluan, pasangannya akan sulit 'mengejar'. Untuk memulainya harus dari awal lagi dan butuh waktu lama," terang Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, DSRM, MKes. (MMR)

Lagi pula, sambungnya, pria yang penuh pengertian biasanya sudah tahu teknik-teknik khusus yang bisa menghambat ejakulasi agar istrinya mencapai puncak kenikmatan lebih dulu. "Dia bisa memperkirakan berapa lama harus menunggu istrinya siap, kapan waktu yang tepat untuk menyemprotkan spermanya, dan berapa kali dia mau memuaskan istrinya." Sayangnya, tak setiap pria memiliki keahlian semacam ini. Tapi, tak perlu kecil hati, Pak, bila Anda belum memilikinya. Dengan latihan yang relatif sederhana, Anda juga bisa jadi mahir, kok, dalam mengendalikan diri.

Saran Ferryal, cobalah latihan Kegel, yakni latihan yang dapat menguatkan otot-otot sekitar panggul. Caranya, tarik kemudian tahanlah untuk beberapa saat otot-otot di sekitar kemaluan seolah Anda sedang menahan keluarnya air seni. Latihan kontraksi semacam ini sudah jauh-jauh hari diperkenalkan pada wanita untuk melatih kelenturan daerah genitalnya. Dengan memperkuat otot-otot dasar panggul, baik pria maupun wanita bisa mengatur kekuatan dan kemampuan ototnya untuk "mencengkeram".

Pria pun bisa mengatur kapan saat tepat untuk ejakulasi. Namun lewat trial and error melalui pengalaman pribadi masing-masing, para pria bisa juga, kok, menciptakan bentuk-bentuk latihan khusus untuk keperluan tersebut. Sementara senam seks yang kini menjamur di sanggar-sanggar, menurut Ferryal, justru lebih banyak mengajarkan gerakan yang menggambarkan persetubuhan, hingga tak memberi banyak manfaat.

CIPTAKAN RITUAL-RITUAL KHUSUS

Misalnya, mandi bersama, atau menyiapkan kamar tidur dengan menghadirkan suasana romantis. Bisa juga istri menunggu suami pulang kantor dengan mengenakan gaun seksi atau wewangian kesukaan suami. Tapi tentu tak mengada-ada, melainkan spontanitas keinginan bersama. Ritual-ritual khusus ini, menurut Ferryal, bagus sekali kalau dilakukan karena bisa dikategorikan foreplay maupun afterplay. "Kan, enggak harus dilanjutkan dengan persetubuhan sehingga bisa dilakukan kapan saja." Bukankah hanya dengan bermesraan juga bisa mempererat ikatan kasih sayang suami-istri?

OBAT KUAT MEMBANTU ORGASME

Begitu, lo, yang kerap digembar-gemborkan para pengiklan produk obat-obatan khusus buat pria. Padahal, bila diteliti kandungannya, obat-obat tersebut lebih bersifat suplemen, berupa vitamin-vitamin atau mineral-mineral tertentu yang tujuannya membuat tubuh sehat. Begitu juga jejamuan yang mengandung pasak bumi, ginseng, merica hitam dicampur telur dan madu. Jadi, enggak ada kaitannya sama sekali dengan pencapaian orgasme.

Yang lebih tepat, tutur Ferryal, kuning telur dan madu mengandung kalori tinggi dan merica hitam berkhasiat melancarkan aliran darah. Dengan mengkonsumsi obat-obatan atau jejamuan tadi secara teratur, tentu saja membantu menjaga tubuh agar tetap fit. Nah, dalam kondisi tubuh yang fit, ditambah enggak ada beban stres, maka libido pun akan meningkat. Itulah mengapa, anjurnya, hiduplah secara sehat agar bisa menghasilkan kehidupan seksual yang baik. "Makanan harus cukup gizi, hindari atau setidaknya kelola stres, cukup istirahat, olah raga teratur." Dalam tubuh yang sehat terdapat seks yang sehat, lo. Kalau badan loyo, ya, gimana mau orgasme?

Sumber : www.tabloidnova.com

Istri Tak Orgasme Lantaran Keegoisan Suami

Lebih dari 50 persen wanita Indonesia tak pernah tahu ataupun merasakan orgasme. Padahal, kondisi organ-organ seksualnya memungkinkan ia mengalami orgasme bukan cuma sekali, lo, malah bisa berulang kali hanya dalam waktu sekian detik.

Diduga, penyebab utamanya adalah egoisme pria. "Banyak, kan, suami yang merasa bahwa cuma dia yang harus dipuaskan, tanpa mempedulikan pasangannya puas atau tidak," papar Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, DSRM, MKes. (MMR) yang mendapatkan angka di atas dari hasil penelitiannya.

Padahal, lanjut konsultan seksologi ini, kehidupan seksual dalam keluarga adalah kepentingan bersama. Dengan demikian, kepuasan seksual sudah semestinya menjadi hak istri juga. "Berpasangan sebagai suami-istri, kan, levelnya sama; hak dan kewajiban mereka juga sama." Jadi, kalau istri wajib memuaskan suami, maka suami pun wajib memuaskan istri. Begitu, kan, Pak?

Toh, Ferryal melihat, betapapun egoisnya pria, jauh di dasar hatinya ia akan merasa tertekan bila pasangannya tak mencapai kepuasan. "Paling tidak, ia menganggap kejantanannya kurang, atau ia bukan lelaki sempurna yang bisa membahagiakan istrinya." Terlebih lagi, pria pun sebenarnya tahu dan bisa merasakan, kapan pasangannya betul-betul mencapai orgasme atau hanya sekadar pura-pura puas.

MENGINGKARI DIRI

Tapi tentunya nggak adil, ya, Bu, kalau kita hanya menyalahkan pria semata. Soalnya, "ketidakmampuan" wanita mengalami orgasme juga bisa disebabkan si wanita sendiri. Bukankah sebagai istri, wanita sudah "disetel" dalam budaya dan pola pikir untuk serba nrimo atau selalu menempatkan kepentingan suami di atas segalanya, termasuk dalam urusan ranjang?

Pokoknya, apa-apa selalu demi suami. "Nggak masalah, deh, saya nggak bisa menikmati apa-apa. Yang penting suami puas dan enggak neko-neko di luaran," begitu, kan, alasan yang kerap kita dengar. Bahkan, tak sedikit istri yang kemudian berpura-pura puas semata-mata agar suaminya puas. "Sikap begini, kan, jelas salah besar, karena Anda berarti mengingkari diri yang justru bisa mendatangkan stres tingkat tinggi," bilang Ferryal.

Apalagi kalau Ibu pernah sesekali merasakan nikmatnya orgasme, entah dengan suami atau dulu semasa muda lewat masturbasi. "Bisa-bisa Anda akan uring-uringan dan gampang meledak marah tanpa sebab, gara-gara stres lantaran enggak puas." Itulah mengapa, Ferryal minta agar masalah in dikomunikasikan dengan pasangan. "Istri berhak protes, kok!" tegasnya. Jadi, jangan diam saja, ya, Bu, kalau tak pernah mengalami kepuasan. Kalau tidak, biarpun Bapak tahu Ibu belum mencapai orgasme, ya, dia akan anteng-anteng saja. Ingat, lo, egoisme pria! Eh, jadi nyalahin Bapak lagi, ya, Bu.

TIGA FASE HUBUNGAN SEKSUAL

Sebenarnya, tutur Ferryal, kalau suami-istri mau saling terbuka dan memahami, maka tak akan ada ganjalan dalam hubungan suami-istri. Selanjutnya, untuk bisa menikmati hubungan seksual secara benar, ikutilah pola tertentu secara berurutan, yaitu fase foreplay atau pemanasan, persetubuhan itu sendiri, dan afterplay .

"Fase foreplay diperlukan karena wanita butuh rangsangan dan waktu relatif agak lama untuk memulai persetubuhan," terangnya. Bila diibaratkan, wanita adalah mobil bermesin diesel; panasnya lama. Sedangkan pria sebaliknya. Setelah foreplay , biasanya libido keduanya sudah memuncak dan berada dalam kondisi "siap tempur". "Nah, dalam keadaan inilah persetubuhan bisa dilakukan dan harus dituntaskan lewat orgasme." Terakhir, fase afterplay . "Ini sering menjadi bagian yang terlewatkan padahal merupakan keharusan."

Mengapa? Boleh jadi karena keegoisan pria. Maaf, lo, Pak, kembali disalahkan. Soalnya, kata Ferryal, banyak suami yang begitu puas dan bisa ejakulasi, langsung tertidur tanpa mempedulikan istrinya. "Kebiasaan ini, kan, salah besar," tukasnya. Apalagi, fase afterplay tak memerlukan waktu lama, paling cuma 2-3 menit. Toh, tujuannya hanya untuk menunjukkan kasih sayang sambil mencium atau memberi pelukan hangat. Jadi, bukan ajakan untuk bercinta lagi atau teknik-teknik seks yang njlimet . Cukup ngomong, "Mama hebat deh. Terima kasih, ya, Papa puas, lo." Begitu juga sebaliknya, istri bisa melontarkan pujian serupa.

TAK HARUS BERSETUBUH

Mengenai teknik persetubuhan, menurut Ferryal, tak ada kaitannya dengan orgasme. "Sepanjang ketiga fase tersebut diikuti, apapun tekniknya, suami-istri bisa sama-sama mengalami kepuasan, kok." Jadi, tak ada patokan untuk melakukan teknik tertentu. Lagi pula, soal teknik, kan, bisa terinspirasi dengan sendirinya tanpa harus baca buku petunjuk apalagi dihafalkan. Tercapainya orgasme juga tak berkaitan langsung dengan frekuensi hubungan seksual. Yang penting, pasangan tersebut cocok dan saat berhubungan keduanya dalam keadaan "siap tempur".

Jangan sampai ada keterpaksaan dari istri ataupun pemaksaan dari suami. "Bila kedua hal ini terpenuhi, kapan pun suami-istri mau dan berapa kali pun dalam sehari enggak jadi masalah," tukas Ferryal. Lagi pula, kehidupan seksual sebetulnya tak selalu harus diartikan sebagai persetubuhan, "melainkan hubungan timbal-balik dalam hal kasih sayang dan mengupayakan kebahagiaan pasangan." Itulah mengapa, hubungan seksual yang ideal justru yang terencana, disiapkan sungguh-sungguh, sekaligus dinikmati kedua belah pihak.

"Cobalah selalu membiasakan diri melakukannya dalam keadaan tenang dan rileks, sehingga kepuasan yang didapat juga maksimal," saran Ferryal. Caranya dengan latihan konsentrasi dan belajar menguasai diri. Pikiran yang menggebu-gebu hanya akan jadi gangguan. Jikapun bisa mencapai kepuasaan, sifatnya dadakan sehingga tingkat kepuasannya pasti jauh lebih rendah dibanding bila hubungan dinikmati tanpa keterburu-buruan. Bukan berarti suami-istri tak boleh melakukan hubungan seks secara cepat, lo.

"Kalau memang keduanya sama-sama sibuk hingga tak punya waktu untuk menikmati kebersamaan ini, ya, silakan saja," tukas Ferryal. Meski risikonya serba terburu-buru, toh, masih bisa cepat terangsang dan cepat pula orgasme. Hanya kepuasan yang diperoleh biasanya tak mendalam dan tak maksimal.

Sumber : www.tabloidnova.com

Ayo Bunda, Bantu Anak Dapatkan Tayangan Mendidik

Gempuran media seolah tak ada henti-hentinya dari hari ke hari. Semua orang bisa mengakses informasi kapanpun dan dimanapun, tak terkecuali anak-anak di bawah umur yang kian peka terhadap perkembangan informasi. Kecenderungan anak yang senang meniru apa yang ia tangkap bisa berbalik menjadi hal negatif bila tak disertai bimbingan dari orangtua. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Yayasan Pengembangan Media Anak, B. Guntarto saat menjadi pembicara dengan tema ‘Terbatasnya Hiburan yang Mendidik Bagi Anak’.

“Tayangan tidak semua aman bagi anak. Akses internet, video games, buku anak yang tak sesuai dengan tingkatan usia, yang sebagaian besar tidak aman. Anak kita perlu intervensi dan peran orangtua,” ujar Ketua Umum Yayasan Pengembangan Media Anak, B. Guntarto, saat dijumpai di acara press conference Paddle Pop Elemagica, F’Cone FX Lifestyle X’nter, Jl. Jend Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta, Senin (15/11) sore.

Menurut Guntarto, setiap anak memiliki banyak waktu luang untuk mengkonsumsi tayangan di televisi. Bahkan, waktu mereka akan lebih banyak tercurah pada televisi ketimbang menyerap pelajaran di sekolahnya. Hak inilah yang seharusnya menjadi perhatian penuh orangtua. Berdasarkan survey yang didapat oleh Yayasan Pengembangan media Anak (YPMA) pada tahun 2006 saja jumlah jam menonton pada anak usaia Sekolah Dasar (SD) mencapai 35-40 jam per minggunya atau mencapai 1.800 jam per tahunnya.

Bisa dibayangkan, betapa membanjirnya informasi yang bisa didapat anak-anak. Padahal belum tentu semuanya berdampak baik bagi anak. “Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan jam belajar mereka di sekolah dasar negeri yang hanya sekitar 800 jam per tahun. Kalau hari sekolah banyak liburnya, maka menonton televisi tidak pernah akan libur pada ank-anak,” ujar Guntarto seraya tertawa.

Bila membicarakan dampak yang bisa terjadi akibat banyaknya tayangan televisi yang dikonsumsi anak-anak, bukan tak mungkin perilaku mereka juga menunjukkan perubahan. “Kalau mereka banyak menonton tayangan anti sosial, mereka akan belajar menjadi pribadi yang anti sosial juga, sebaliknya kalau pesannya yang disampaikan baik maka akan belajar hal-hal yang baik pula dari media, anak akan meniru dari media,” ucap Guntarto. “Pada dasarnya, anak akan belajar dari apa yang mereka temui dan mereka lihat dari lingkungannya, termasuk dari media. Ini adalah proses imitasi (meniru) dan identifikasi dari tokoh yang mereka sukai atau kagumi,” tambah Guntarto.

Sebagai kesimpulannya, Bunda, sebaiknya mulai memperhatikan tayangan apa saja yang biasanya dikonsumsi anak di waktu senggangnya. Mulailah bersikap kritis namun membangun serta memberi pengetahuan terhadapa anak akan tayangan yang digemari. “Orang dewasa membantu anak dalam menyediakan akses terhadap isi media yang aman, sesuai dengan kelompok usianya, dan mengandung nilai-nilai positif,” tutup Guntarto.

Sumber : www.tabloidnova.com